Nuban Institute Hosts Poetry Reading as a Cultural Space for Social Critique

Batanghari, East Lampung — On Monday, 15 September 2025, the Nuban Institute’s basecamp in Batanghari became a quiet yet intense gathering space. There were no banners or formal speeches. Instead, voices rose one by one, carrying poems shaped by reflection, concern, and lived experience. Twenty-five participants—cultural figures, lecturers, students, and community leaders—came together to listen as much as to speak.

The collective poetry reading was conceived as a cultural response to contemporary social and political realities. Rather than direct confrontation, the participants chose poetry as a medium of critique—one that allows dissent to be expressed with nuance, imagination, and ethical restraint. Through metaphor and imagery, the poems addressed public policies, social injustice, and the unease felt by many citizens today.

Each poem was read individually, giving space for every voice to resonate fully. The atmosphere was attentive and contemplative. Silence between readings was as meaningful as the words themselves, turning the event into a shared moment of reflection rather than performance.

According to Dr. Ahmad Muzakki, M.Pd, Chair of the Nuban Institute, the event reflects the institute’s commitment to sustaining a tradition of thoughtful and responsible criticism. “Poetry creates distance from anger, but brings us closer to honesty,” he said. “It allows criticism to remain firm without becoming destructive, and expressive without losing its moral grounding.”

He emphasized that cultural forums like this are increasingly important in a public climate dominated by polarization and noise. Bringing together academics, artists, students, and community leaders in a single circle, he added, helps preserve critical thinking while nurturing social sensitivity.

Through this poetry reading, the Nuban Institute reaffirmed its role as an intellectual community rooted in culture. In the modest setting of its Batanghari basecamp, poetry once again proved its power—not as an escape from reality, but as a meaningful way to question it, challenge it, and humanize it.

Baca Puisi Bersama Nuban Institute: Kata-kata yang Menyimpan Kegelisahan Zaman

Batanghari, Lampung Timur — Senin, 15 September 2025, Bascamp Nuban Institute di Batanghari tidak dipenuhi spanduk atau pidato panjang. Yang terdengar justru suara kata-kata yang dibacakan perlahan, bergantian, dengan jeda-jeda sunyi di antaranya. Dalam suasana itu, 25 orang dari beragam latar—budayawan, dosen, mahasiswa, dan tokoh masyarakat—hadir membawa kegelisahan masing-masing, lalu menaruhnya di atas meja puisi.

Baca puisi bersama ini digelar sebagai ruang ekspresi sekaligus perenungan. Puisi dipilih bukan semata karena keindahannya, melainkan karena kemampuannya menyimpan kritik tanpa kehilangan martabat. Melalui metafora dan ironi, para peserta menyampaikan pandangan kritis terhadap arah kebijakan dan realitas sosial yang mereka rasakan sehari-hari.

Pembacaan puisi dilakukan satu per satu, memberi ruang bagi setiap suara untuk didengar secara utuh. Tidak ada interupsi, tidak ada tepuk tangan berlebihan—yang ada adalah kesediaan untuk menyimak. Puisi menjadi medium dialog yang sunyi namun tajam, menyentuh lapisan kesadaran yang kerap luput dari bahasa formal.

Ketua Nuban Institute, Dr. Ahmad Muzakki, M.Pd, mengatakan bahwa kegiatan baca puisi bersama ini merupakan ikhtiar kebudayaan untuk menjaga tradisi kritik yang beradab. Menurutnya, puisi memungkinkan kritik disampaikan tanpa harus kehilangan etika dan kemanusiaan. “Puisi memberi jarak dari kemarahan, tetapi justru mendekatkan kita pada kejujuran. Kritik tidak selalu harus keras, yang penting jujur dan berpihak pada kepentingan publik,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa ruang-ruang kultural semacam ini penting untuk terus dihidupkan, terutama di tengah situasi sosial yang cenderung meminggirkan dialog. Bagi Nuban Institute, mempertemukan dosen, budayawan, mahasiswa, dan tokoh masyarakat dalam satu lingkaran puisi adalah cara merawat nalar kritis sekaligus kepekaan sosial.

Melalui kegiatan ini, Nuban Institute menegaskan posisinya sebagai organisasi intelektual yang berpijak pada kebebasan berpikir dan tanggung jawab kultural. Di Bascamp sederhana di Batanghari, puisi kembali dipulihkan sebagai bahasa kritik yang jernih—menggugat tanpa mencaci, mengingatkan tanpa menggurui, dan tetap berpihak pada kemanusiaan.