
Nuban Institute menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku dan Diskusi atas buku Etika Bisnis Muslim Tionghoa Lampung: Integrasi Nilai Islam dan Akulturasi Budaya karya Diana Ambarwati, pada Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 16.00–18.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis buku sebagai narasumber utama dengan Ananto Triwibowo (Dosen UIN Jusila) sebagai moderator.
Acara yang diikuti sekitar 30 peserta ini dihadiri oleh kalangan dosen, mahasiswa, budayawan, dan penggiat seni. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman praktis para peserta mengenai etika bisnis dan keberagaman budaya.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ahmad Muzakki yang menekankan pentingnya ruang-ruang diskusi intelektual seperti bedah buku. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar memperkenalkan karya ilmiah, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertemukan gagasan, memperkaya perspektif, serta membangun tradisi dialog di tengah masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam buku ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk, di mana nilai agama dan budaya dapat saling memperkuat dalam membangun praktik ekonomi yang beretika.
Dalam pemaparannya, Diana Ambarwati menjelaskan bahwa buku ini lahir dari refleksi terhadap praktik bisnis kontemporer yang sering kali dipandang terpisah dari nilai moral dan spiritual. Melalui pendekatan yang menggabungkan perspektif Islam dan budaya Tionghoa, buku ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak harus dicapai dengan mengorbankan nilai-nilai etika.
Buku ini menguraikan prinsip-prinsip etika bisnis Islam seperti kejujuran, keadilan, amanah, dan kemaslahatan sebagai fondasi praktik usaha. Di sisi lain, penulis juga menampilkan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Tionghoa, seperti guanxi (jejaring relasi), xinyong (kepercayaan), dan ren (kemanusiaan), yang selama ini dikenal kuat dalam praktik bisnis komunitas Tionghoa.
Melalui penelitian terhadap komunitas Muslim Tionghoa di Lampung, buku ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai tersebut berinteraksi dan membentuk praktik bisnis yang khas. Konsep “berbisnis dengan Allah”, menjaga kehalalan usaha, membangun loyalitas dengan karyawan, serta praktik sedekah dan filantropi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan usaha.
Moderator Ananto Triwibowo dalam diskusi tersebut menilai bahwa buku ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana akulturasi budaya dapat melahirkan model etika bisnis yang relevan bagi masyarakat multikultural seperti Indonesia.
Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini memperlihatkan antusiasme peserta yang aktif mengajukan pertanyaan dan pandangan. Melalui kegiatan ini, Nuban Institute berharap tradisi diskusi dan pengembangan gagasan dapat terus tumbuh, sekaligus memperkaya wacana tentang hubungan antara agama, budaya, dan praktik ekonomi di Indonesia.
